Senin, 18 April 2016 0 komentar

Renegosiasi Kontrak dengan Freeport Adalah yang Terberat

Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),R. Sukhyar saat wawancara dengan MigasReview diruang kerjanya di gedung Dirjen Minerba,Jalan Soepomo, Jakarta, Kamis (09/04/2015). ©Fachry Latief/MigasReview.com

MigasReview, Jakarta – Selama mengabdi sebagai aparat negara, Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara (Minerba) R. Sukhyar selama bertahun-tahun membahas Rancangan Undang-Undang Minerba hingga ditetapkan menjadi UU No. 4 Tahun 2009. Setelah UU tersebut ditetapkan, dia tidak lantas lepas tangan karena masih harus menerapkannya.
Di usianya yang menjelang pensiun, berbagai masalah di sektor minerba masih membutuhkan penanganannya. Sebagian memberikan hasil yang membanggakan, sebagian lagi bikin pusing dan membuat kadar gulanya naik.
Berikut pemaparan R. Sukhyar kepada MigasReview beberapa waktu lalu:
Dari 1998 sampai 1999 saya menjabat sebagai Direktur Vulkanologi di Direktorat Jenderal Geologi. Pada 2001 Ditjen Pertambangan Umum digabung dengan Ditjen Sumber Daya Mineral, dan saya menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal (Setdirjen) sampai 2005. Selanjutnya saya menjabat sebagai Staf Ahli Menteri hingga pada 2008 saya menjadi Kepala Badan Geologi. Mulai 2013 saya menjadi Dirjen Minerba.
Pada saat menjadi Setdirjen Geologi, saya bertanggung jawab menyiapkan RUU Pertambangan mulai 2003. Walaupun Dirjennya bukan saya, itu adalah komitmen saya sebagai aparat negara untuk menyelesaikan RUU Minerba. Pada masa itu saya ikut dalam tim perumusan. Sampai saya menjadi staf ahli menteri, saya terus mendiskusikan RUU Minerba dengan para anggota DPR.
Hal yang menggembirakan ketika menyusun UU Minerba ada beberapa hal. Yang pertama adalah tidak ada lagi kontrak pertambangan. Betapa susahnya kami duduk bersama-sama dengan pemegang kontrak, salah satunya Freeport Indonesia. Itu sangat sulit. Maka rezimnya harus diubah. Tidak ada lagi rezim kontrak, yang ada harus izin. Untuk saat ini, mereka hanya menghabiskan term kontraknya saja. Kalau kontrak PT Freeport Indonesia habis pada 2021, kontraknya tidak akan diperpanjang lagi. Jika pemerintah memperpanjang operasi perusahaan, maka bukan lagi memakai sistem kontrak namun izin.
Perbedaan kontrak dan izin sangat kontras.  Untuk kontrak kami duduk bersama-sama untuk meneken perjanjian. Tidak boleh mengubah hitungan fiskal dari kedua belah pihak. Tapi kalau izin, jika ada perubahan hitungan fiskal, maka tidak boleh ada penolakan karena itu berdasarkan UU. Jika keberatan, silakan tinggalkan Indonesia, karena kami memosisikan UU lebih tinggi daripada kontrak.

Bangga Nilai Tambah Masuk ke UU Minerba

Kedua menyangkut nilai tambah. Saya bangga sekali, nilai tambah dimasukkan ke dalam UU Minerba. Kewajiban membangun smelter adalah salah satu bagian saja dalam nilai tambah. Kalau kita bicara timah, dari zaman Belanda juga sudah ada upaya memurnikan logam timah. Jadi, masa kita hanya sampai pada logam timah saja, tidak ada kemajuan? Maka kita perlu mengembangkan segmentasinya, yaitu industri kimia berbasis timah. Kita bicara untuk tidak lagi menghidupi industri luar negeri tetapi industri dalam negeri.
Sekarang sumber daya tidak lagi eksploitatif namun menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Jadi nilai tambah itu semangatnya jangan mengambil nilai di hulu, melainkan di hilir. Kalau kita kembangkan sumber daya di hilir, maka hasilnya tinggi. Kalau kita jual bauksit, katakanlah sekitar US$30 per ton, namun jika sudah menjadi alumina menjadi US$400 per ton. Nilai tambah adalah hal yang mencolok bagi anggota DPR, karena itu ide yang sangat bagus
Renegosiasi Kontrak yang Menyesakkan
Selama saya menjabat sebagai aparatur negara, yang paling menyesakkan adalah saat renegosiasi kontrak. Ada 107 kontrak yang harus direnegosiasikan. Untuk renegosiasi, kami memulainya dari MoU antara pemerintah dengan pelaku usaha sebanyak 6 term, terdiri atas penerimaan negara atau fiskal, pengurangan luas wilayah, bentuk izin operasi, permurnian mineral, divestasi saham, dan konten lokal. Saya senang karena dari 107 itu ada beberapa yang meneken MoU. Itu suatu hal yang luar biasa. Pasalnya, kalau tidak ada MoU maka ke depannya susah berbicara ke amendemen kontrak. Untuk amendemen, yang sudah meneken baru satu, yaitu PT Vale Indonesia Tbk. Mudah-mudahan kontrak generasi dua selesai dan semua amendemen diteken oleh pemerintah.
Dari enam term, yang paling menjadi kendala adalah di bilang fiskal. Makanya, kami meminta Kementerian Keuangan berada di garis terdepan dalam urusan fiskal walaupun MoU itu sudah jelas mengenai penerimaan negara, PPH tetap, dan lainnya sesui dengan ketentuan. Begitu didetailkan di amendemen, banyak terjadi perdebatan, mulai dari masalah PBB, masalah pajak air, masalah PPN, dan yang printilan-printilan harus dibicarakan dengan Kementerian Keuangan. Padahal, secara garis besar tidak ada hubungan antara MoU dengan perpanjangan kontrak.
Terberat dalam renegosiasi kontrak adalah dengan PT Freeport Indonesia. Saya sampai sakit. Kadar gula saya meningkat pada saat renegosiasi dengan Freeport. Kalau Freeport tidak sadar, maka mereka kebangetan. Sekarang Freeport tidak lagi membicarakan renegoisasi di tingkat Ditjen Minerba namun sudah ke tingkat Menteri ESDM karena banyak term yangdeadlock dengan mereka.
Selama menjabat Dirjen, saya bersyukur Ditjen Minerba adalah satu-satunya dan pertama kali di bawah supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sampai hari ini kami masih bekerjasama dengan KPK. Kami senang saja ada institusi yang menopang dan mendorong perbaikan. Supervisi yang ada di sini menjadi model pengelolaan di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan, dan lain-lain.
Lebih Pentingkan Kerja daripada Keluarga
Berbicara mengenai prinsip hidup, prinsip saya adalah nasionalisme. Nasionalisme nomor satu bagi saya. Namun saya juga malu dengan keluarga saya karena lebih mementingkan kerja daripada keluarga. Kalau keluarga memberikan testimoni, istri dan semua anak akan kompak mengatakan saya terlalu banyak bekerja hingga kurang memikirkan keluarga. Namun, this is life karena hidup penuh pilihan. (tyo raha) 

sumber : http://www.migasreview.com/
Share
Minggu, 06 September 2015 0 komentar

Bucket-wheel excavator (BWE)

Udah lama gak ngepost hihihi .... minggu kemaren habis interview psikologi disaranin mbak psikologinya terus nulis jangan sampai stack ditengah jalan hehehe
ok langsung saja, teringat salah satu alat berat yang sangat besar waktu magang disalah satu perusahaan pertambangan batubara indonesia yang bernama BWE/bucket wheel exavator.

Bucket-wheel excavator (BWE)

Bucket-Wheel excavator

Bucket-wheel excavator (BWE) adalah alat berat yang digunakan di penambangan terbuka. Fungsinya adalah sebagai mesin pengeruk atau penggali skala besar dan kontinu. BWE mirip dengan bucket-chain excavator, namun dibedakan dengan penggunaan roda yang memiliki banyak "ember" (bucket) di sisi-sisinya yang digunakan untuk mengeruk secara bergantian.

Komponen utama BWE adalah roda besar berputar yang dipasang pada sebuah lengan raksasa. Ujung roda ini kemudian dipasangi bucket dengan gigi-gigi logam dipinggiran bucket yang digunakan untuk menggali tanah. Bucket ini terus berputar seiring putaran roda (wheel) yang kemudian dirancang untuk menumpahkan muatannya pada belt conveyor yang terdapat di badan BWE.

BWE disebut juga sebagai continuous excavators karena dapat menggali secara menerus tanpa terputus. Bucket yang terus berputar akan memberikan tingkat penggalian maksimal plus tidak diperlukannya lagi alat angkut tambahan seperti dump truck, karena mineral yang digali langsung diangkut oleh belt conveyor.

Ini jelas sangat menguntungkan karena akan memberikan tingkat produksi yang tinggi (high productivity) dan penghematan biaya pembelian alat angkut tambahan. Kelemahan BWE terutama disebabkan oleh harga alat yang sangat tinggi (high investment cost) serta karakteristik BWE yang hanya cocok digunakan di tanah yang relatif lunak. Umumnya, BWE digunakan di tambang batubara, seperti yang ada pada PT. Bukit Asam (persero) Tbk, digunakan untuk menambang cadangan batubara di Airlaya.

Jerman adalah negara yang paling banyak menggunakan BWE pada pertambangannya, dan di jerman pulalah BWE terbesar didunia dibuat dan dioperasikan. BWE terbesar ini dibuat dengan biaya sekitar US$100 juta, membutuhkan 5 tahun pengerjaan serta memerlukan 5 orang untuk mengoperasikannya.

Berat alat mencapai 12.000 ton dengan kapasitas produksi 220.000 ton perhari. Maka tercatatlah alat raksasa ini di Guinnes Book of Records (2001-2006) sebagai alat bergerak terbesar di dunia.


sumber: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Bucket-wheel_excavator
http://idefa.blogspot.co.id/2012/10/bucket-wheel-excavator-bwe.html

Share
Kamis, 09 April 2015 1 komentar

Bijih


Bijih Emas

Bijih adalah sejenis batu yang mengandung mineral penting, baik itu logam maupun bukan logam. Bijih diekstraksi melalui penambangan, kemudian hasilnya dimurnikan lagi untuk mendapatkan unsur-unsur yang bernilai ekonomis.
Kandungan atau kadar mineral, atau logam, juga bentuk keujudannya, secara langsung akan memengaruhi ongkos pertambangan bijih. Ongkos ekstraksi harus diberi pembobotan untuk dibandingkan dengan nilai ekonomis logam yang terkandung untuk menentukan bijih yang mana yang lebih menguntungkan dan bijih yang mana yang kurang atau tidak menguntungkan. Bijih logam secara umum merupakan persenyawaan oksida, sulfida, silikat, atau logam "murni" (misalnya tembaga murni yang biasanya tidak terkumpul di dalam kerak Bumi atau logam "mulia" (biasanya tidak berbentuk persenyawaan) seperti emas. Bijih harus diolah untuk mengekstraksi logam-logam dari "batuan sampah" dan dari mineral bijih. Tubuh bijih dibentuk oleh berbagai macam proses geologis. Di dalam bahasa Inggris, proses "pembentukan bijih" disebut sebagai ore genesis.

Penggolongan bijih menurut pembentukannya

  1. bijih primer (hipogen), yakni bijih yang diendapkan pada saat terjadinya proses pelogaman
  2. bijih sekunder (supergen), yakni bijih yang diendapkan sebagai akibat alterasi dari bijih primer, oleh proses pelapukan dari air permukaan yang meresap ke dalam tanah.

Proses pembentukan

  1. Konsentrasi magmatik > deposit magmatik
  2. Sublimasi > sublimat
  3. Kontak metasomatisme > deposit kontak metasomatikcock
  4. Konsentrasi hidrotermal > pengisian celah-celah terbuka (pertukaran ion pada batuan)
  5. Sedimentasi lapisan sedimenter (evaporit)
  6. Pelapukan Konsentrasi residual
  7. Metamorfisme > deposit metamorfik
  8. Puki

Contoh proses pengendapan bijih besi

  1. Diferensiasi magmatik
  2. Larutan hidrotermal
  3. Proses sedimentasi
  4. Proses pelapukan

Manfaat pengenalan proses pembentukan

  1. Membantu dalam proses pencarian
  2. Membantu dalam proses penemuan
  3. Membantu dalam proses pengembangan bahan galian
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : Wikipedia


 

Share
Senin, 28 Juli 2014 0 komentar

Talpac 9.4 Free download

Talpac

Talpac merupakan sebuah software penunjang kegiatan penambangan , dimana penggunaannya diaplikasikan dalam kegiatan produksi. Talpac ditujukan untuk menentukan produktivitas dan ekonomisasi sistem pengangkutan truk dan loader.

 Penggunaan software Talpac :

1. Mengkalkulasikan produktivitas armada untuk perencanaan jangka panjangdan jangka pendek

2. Mengevaluasi peralatan dengan teknik loading serta ukuran bucket optimum

3. Menentukan biaya pengangkutan dengan menggunakan analisa cash flow
berpotongan serta biaya truk terakumulasi. Hal ini menjadikan Talpac suatu
piranti penting dalam proses pemilihan dan penjustifikasian alat kerja

4. Dengan mudah menyatukan data biaya dan mengkalibrasikan sistem pengangkutan dengan data kinerja nyata dari sistem monitoring armada

5. Membuat laporan yang didefinisikan pengguna

6. Memilih opsi grafik

7. Mengkustomisasikan Talpac dengan parameter khusus situs tertentu yangmempengaruhi produktivitas armada, seperti rute pengangkutan, tipe trukdan loader, sifat-sifat material, jadwal kerja, dan batasan-batasan operasilainnya

8. Laporan pemakaian ban (TKPH atau TMPH) untuk tiap rute pengangkutanuntuk membantu dalam manajemen pemanasan ban

9.Laporan mengenai pemakaian bahan bakar, membantu manajemen persediaan bahan bakar.Talpac termasuk di dalamnya database luas berisi informasi lebih dari 500 jenis trukdan 400 jenis loader. Informasi ini diperbaharui setiap tahunnya.


Untuk mengunduh Talpac klik disini Talpac 9.4 Free download
Share
Jumat, 28 Maret 2014 1 komentar

Klasifikasi Cadangan

Salah satu hal yang menentukan dalam pengusahaan batubara adalah besarnya potensi cadangan batubara di daerah yang bersangkutan . Beberapa klasifikasi cadangan yang ada mengacu kepada standart yang ditetapkan  oleh USGS (United State Geology Survey ) dan standart yang diterapkan oleh GSQ ( Geological Survey of  Queensland ) adalah sebagai berikut :
Secara umum ada dua istilah cadangan , yaitu :
1. Coal Resource ( Sumber Batubara )
Adalah cadangan batubara yang ada dipermukaan tanah yang menguntungkan / berpotensi untuk dimanfaatkan dalam setiap pembentukan dan jumlahnya untuk ditambang  .Ada 3 ( tiga ) kategori Coal resource yang dikenal yaitu :

a. Measured Coal Resource (Pengukuran Sumber Batubara )
Sering juga disebut Proven Resource atau Confirmed Resource atau Positive Resource  , adalah cadangan batubara yang dari tingkat kerapatan dan kualitas datanya yang layak dan dapat dipercaya untuk perhitungan ketebalan , kualitas kedalaman dan tonnage cadangan insitu . Dasar perhitungannya adalah sebagai berikut :
- Jarak spasi antara titik bor > 1 km
- Radius dari pengamatan  terakhir > 0.5 km
- Tebal batubara relatif konstan
- Lapisan batubara menerus ( tidak terputus ) , bila tidak menerus maka  maka jarak pengamatan harus dipersempit lagi .
- Titik pengamatan dalam satu lapisan batubara yaitu Outcrop , trencing  area kerja tambang dalam titik bor.
- Khusus untuk data batubara dari drilling yang dipakai data coring saja dengan recovery minimum 90 %.

b. Indicated Coal Resource ( Tertunjuk Sumber Batubara )
Adalah cadangan batubara estimasi yang dihitung atas control titik – titik  pengamatan yang dimiliki . Dasar perhitungannya adalah sebagai berikut :
- Jarak antara titik pengamatan maksimum 2 km.
- Radius dari data point terakhir  maksimum 1 km.
- Tebal lapisan batubara relative konstan .
- Lapisan batubara menerus atau tidak menerus ( terputus ).
Titik pengamatan dalam satu lapisan batubara yaitu Outcrop ( singkapan bagian – bagian luar ), trencing ( pembuatan parit/ channel ) guna mengetahui out crop di ujung cropline (garis singkapan ) , daerah kerja tambang dalam titik bor .
Khusus untuk data batubara dari  bor samping dari hasil coring bias juga dari data non coring yang didukung dari data loging.

c. Inferred Coal Resource ( Terduga Sumber Batubara )
adalah cadangan batubara terduga yang diluar sumber terukur dan sumber tertunjuk dihitung atas kontrol titik – titik pengamatan yang spasinya sangat jauh atau titik pengamatannya kurang akurat untuk diambil dasar perhitungan . Ada 2 (dua) jenis coal resource berdasarkan keakuratan titik pengamatannya, yaitu :
- Inferred Coal Resource  Class I
Sering juga disebut Assumed Coal Resource adalah cadangan batubara terduga yang dihitung atas dasar spasi titik pengamatan  maksimum 4 km dan radius terluar dari titik pengamatan yang paling ujung tidak lebih dari 2 km.
- Inferred coal Resource Class II
   Adalah cadangan batubara yang minim atau kurang dengan data dan dihitung atas dasar perkiraan ketebalan batubara yang diukur serta dihitung oleh pertimbangan komdisi regional saja.
Jika ditemukan adanya lapisan yang tidak menerus , maka dasar perhitungannya adalah sebagai berikut :
- Jarak spasi antar titik bor > 0,5
- Radius dari titik pengamatan terakhir > 100 m


Parameter yang ditetapkan untuk sumberdaya batubara ( coal resources ) adalah sebagai berikut :


2. Coal Reserves
            Adalah cadangan batubara yang secara ekonomis dapat diambil atau diproduksi berdasarkan pertimbangan kondisi – kondisi yang berlangsung pada saat sekarang ini . kondisi – kondisi itu meliputi antara lain :
a. Keadaan lingkungan  ( Environment )
   Yaitu berhubungan dengan lokasi pemukiman , pertanian hutan lindung , jalan raya instalasi listrik dan sarana lainnya yang tidak memungkinkan lagi untuk dijadikan lahan tambang . Perhitungan cadangan harus dilakukan diluar lokasi ini , dan perlu diperhitungkan juga untuk penentuan lokasi pembuanggan  tanah penutup ( disposal area ) , jalan tambang , jalan untuk pengangkutan batubara dan lokasi penumpukan batubara , pengolahan batubara , serta penentuan spesifikasi kualitas batubara yang akan dijual.
b. Peraturan pemerintah
   Adalah peraturan pemerintah yang berhibungan dengan perijinan penambangan , undang – undang lingkungan dan reklamasi ,dan peraturan – peraturan lainnya yang bersifat mengikat kepada pengusaha pertambangan  yang akhirnya akan berpengaruh kepada  nisbah penambangannya (stripping ratio) , spesifikasi kualitas batubara dan jumlahnya .


c. Teknologi
   Erat hubungannya dengan luas areal pertambangan tingkat kesulitan dalam penggambilan batubara dan topografi daerah tempat batubara itu ditemukan .Teknologi menyangkut macam alat yang digunakan , jumlahnya dan kapasitas masing –masing alat tersebut . Ketiga kondisi diatas juga menpengaruhi harga jual batubara.

Ada tiga macam kategori Coal Reserves
2.1 Mineable reserves
            Adalah cadangan batubara insitu dari cadangan terukur (measured) atau cadangan terindikasi ( indicated ) yang dapat ditambang atas pertimbangan lingkungan , peraturan pemerintah dan teknologi yang ada pada saat ini . Dasar perhitungan mineable reserves adalah sebagai berikut :
- Ketebalan minimal batubara yang ekonomis untuk diambil
- Ketebalan lapisan tanah penutup ( over  burden )
- Kualitas batubara yang sesuai spesifikasi penjualan
- Kedalaman maksimal perencanaan disesuaikan dengan kondisi alat yang ada
- Metoda penambangan tambang terbuka atau tambang bawah tanah 
- Nisbah penambangan atau stipping ratio atas pertimbangan harga jual batubara dan biaya operasi penambangan yang berlaku pada saat ini .

2.2 Recoverable Reserves
            Adalah cadangan batubara dari mineable yang pasti tertambang atas dasar pertimbangan biaya operasi penambangan yang diterapkan pada saat ini .
Dasar perhitungan  recoverable reserves adalah :
- Jumlah optimal batubara yang ekonomis untuk ditambang
- Kualitas batubara yang sesuai dengan spesifikasi penjualan
- Jumlah maksimal lapisan tanah penutup ( over burden ) yang dapat diangkut kelokasi pembuangan ( disposal area )  berdasarkan faktor kemiringan tambang , kelongsoran , pengendalian air permukaan dan pembuatan jalan menuju lokasi pembuangan.

- Kedalaman maksimal perencanaan tambang disesuaikan dengan kondisi dan jumlah alat  yang ada .
- Metode penambangan  tambang terbuka  ( open pit) atau tambang bawah tanah  ( underground mining ) .
- Faktor perolehan penambangan maksimal  90 % untuk open pit dan 50% -60 % untuk underground mining
- Penentuan nisbah penambangan atau stripping ratio yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan harga jual batubara dan biaya operasi yang berlaku pada saat ini.

2.3 Marketable Reserves
            Adalah cadangan batubara dari recoverable reserves yang dapt dijual atas pertimbangan sampainya batubara pada lokasi terakhir ( stokpile ) , coal handling dan kualitas batubaranya . Dasar perhitungan dari marketable reserves  adalah :
- Jumlah optimal batubara yang terangkut ke stokpile (run of mine)
- Jumlah optimal batubara yang dapat terjual dengan pertimbangan spesifikasi kualitas batubara yang diminta oleh pembeli , atau kontrak penjualan pada saat ini .
- Kualitas batubara untuk menentukan harga jual batubara pada saat ini .
            Parameter untuk perhitungan cadangan batubara ( coal recerves) menurut standar yang diterapkan oleh USGS (United States Geology Survey ) dan GSQ (Geologycal Survey of Queesland ) yang dibuat berdasarkan jenis batubarannya yaitu lignit ,bituminous ,sub bituminous dan antrasit mencakup aspek – aspek sebagai berikut :
- Geologi , meliputi kemiringan batubara , tebal , struktur geological local  , litologi , jenis , kekompakan batuan , densitas batubara , kemenerusan batubara.
- Teknik penambangan
- Rancangan kemiringan penambangan
- Rancangan kemiringan penumpukan lapisan tanah penutup
- Jarak menuju lokasi pembuangan lapisan tanah penutup .
- Lebar jalan tambang.
- Lebar minimal areal kerja
- Faktor pengembangan
- Biaya operasi penambangan
            Parameter yang digunakan untuk penetuan cadangan batubara ( coal    reserves ) adalah sebagai berikut:



Sumber:
1.      Wier, E  Charles, “ Engineering Coal deposits for Surface Mining”, Coal  Exploration, Amax Coal Company.
2.      Abdul Rauf  1999,Perhitungan Cadangan Endapan Mineral , Jurusan Teknik Pertambangan .




Share
Jumat, 27 Desember 2013 0 komentar

Tambang Bawah Tanah

Tambang Bawah Tanah
1. Teori Dasar
Tambang bawah tanah (tambang dalam) adalah metoda penambangan yang segala kegiatan penambangan dilakukan di bawah permukaan bumi / tidak berhubungan dengan udara luar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan sistem tambang Bawah Tanah :
1. Panjang Tebal dan lebar cebakan.
Berpengaruh utk menentuikan dimensi stope maksimum yaitu yg dikenal sbg minimum stoping width.
2. Kemiringan Cebakan
Menentukan kemungkinan memanfaatkan gravitasi dlm operasinya.
3. Kedalaman Operasi
Rock Failure mjd lebih memungkinkan pd kedalaman yg besar.
4. Faktor waktu
Berpengaruh pd strenght stress ratio pd exposed rock. Semakin lama waktu pilar berdiri mk ssr semakin turun
5. Kadar cebakan
Cebakan kdr rendah perlu met produksi besar yg sering melupakan %tase recovery, ceb kdr tinggi memerlukan met yg menjamin recovery tinggi.
6. Fasilitas lokal yg meliput buruh dan material.
Biaya buruh mahal mk memerlukan met yg mpy mekanisme tinggi. Ketersediaan timber dan material filling juga berpengaruh.
7. Modal yg tersedia.
Modal kerja awal besar mk biaya operasi rendah. Perusahaan dgn modal kecil memerlukan development yg murah dan metode yang cepat mendapatkan hasil.
8. Batas dgn badan bijih lain.
Tingkat tegangan yg tinggi mungkin timbul pd pilar di perm kerja yg berdekatan mk diperlukan filling pd stope bekas penambangan utk mengurangi tegangan yg tinggi.
9. Strength dan karakteristik phisik bijih dan batuan atau material yg berada di atas bjh.
Berpengaruh pd kompetensi, amblesan, kemudahan pemboran, karakteristik breaking, cara handling, ventilasi dan pemompaan.

Karakteristik-Karakteristik tsb termasuk :
Tipe batuan, tipe dan penyebaran alterasi, weaknesses seperti (perlapisan schistocity belahan min patahan jointing cavities dan spasi),weaknesses sepanjang ddg cebakan, kecenderungan min berharga menghasilkan rich fines atau mud, kecenderungan BO utk memadat/menggumpal, kecenderungan BO teroksidasi dan terbakar, Terjadinya swelling pd lantai, Abrasiveness, terdapatnya air porositas dan permeabilitas cebakan dan bat sekitarnya.

10. Biaya Penambangan
berkaitan dgn nilai bijih yg di Tambang, periode modal kerja bisa diperoleh kembali, tipe keahlian buruh yg tersedia.
11. Produktivitas Dinyatakan dlm ton per man shift yaitu menyatakan kemampuan setiap tenaga kerja menghasilkan BO setiap gilir kerja.
12. Masalah Lingkungan Keamblesan, berkurangnya hutan lokal utk penyanggaan, kualitas dumpsite dll.


Sistem-Sistem Tambang Bawah Tanah:
1. Stope dgn penyanggaan alamiah:
1.1 Open Stope Overhand Stoping:
Aplikasi:
- Endapan dgn tebal 3-4 m
- Dip 50 yg memungkinkan memanfaatkan gravitasi pd pemindahan bo
- Sbg metode keuntungan utk menganbil badan bjh yg terpisah dr bb utama atau bag dr bb utama yg memberikan kondisi yg cocok.
- Hangingwall dan footwall kompeten utk mengurangi pemakaian ore pilar.
- Bijih kompeten
- Pd urat dgn kemiringan besar >50 pekerja tdk bias berdiridi footwall shg perlu membuat platform utk berpijak

Keuntungan :
- Pos back tdk bahaya krn penambangan mengikuti back shg interval level bisa > dibanding open stope underhand stoping
- Sorting sistematis
- Waste mudah ditumpuk pd daerah tambang
- Kondisi kerja aman, kondisi aplikasi elatis
- pd kemiringan yg kecil Bro ore jatuh pd haulage drive scr gravitasi

Kerugian :
- Unjuk pemboran turun
- Dip > 45 diperlukan patform utk berpijak
- Material penyangga banyak
- kehilangan bjh uk hls kadar tinggi lebih besar

1.2 Open Stope Breast stoping (Stop and Pillar):
Aplikasi:
- Cebakan tdk bernilai tinggi yg mengijinkan sejumlah bijih ditinggal sbg pilar
- Ketebalan < 7m - Cebakan > 7 m mungkin ditambang ttp loss bjh dan atap runtuh semakin besar
- Dip 20-50: horizon mining yaitu stope n pillar yg diterapkan utk cebakan mendatar/ hampir datar
inclined : 20 –30, penambangan searah kemiringan dan tdk memungkinkan pemakaian mobile equipment step mining : 30-50, penamabangan scr berurutan utk menghasilkan daerah kerja dgn kemiringan yg memungkinkan menggunakan mobile equipment.
- Batuan atap dan lantai kuat, utk meminimalkan pemakaian pilar
- Bijih hrs kuat utk mengurangi lebar pilar
- Kedalaman tdk terlalu besar utk mengurangi beban yg harus disangga pilar

Keuntungan :
- biaya rendah
- memungkinkan seleksi pd stope dan waste ditinggal pd ruang kosong
- memungkinkan melakukan mekanisasi dr drilling sampai loading dgn used trackless
- development cepat dan dev dilakukan pd bijih itu sendiri
Kerugian :
- kehilangan bijih pd pilar sampai 40% jk dgn pilar robbing mjd 20%
- Bahaya runtuhan dr hanggingwall, dan bila hangingwall mpy joint dan crack yg sejajar memungkinkan runtuhan slab bat yg besar.
- Daerah ventilasi sangat luas.

1.3 Sublevel stoping:
Aplikasi:
- dip 50-90 (steeply) yaitu kemiringan fw> drpd sudut gelincir bo
- hanging dan fotter hrs kompeten
- bjh hrs kompeten
- bjh dgn batas penyebaran kadar merata
- bjh sulfur butuh penanganan flotasi

Keuntungan :
- mengurangi drilling delay utk peledakan,scaling, mucking
- pemb scr kontinue pd dev.
- Longhole driller dpt diledakan di seluruh stope utk give bro ore yg banyak.
- Fleksibel
- Aman dr kebakaran

Kerugian :
- tdk mungkin melakukan sorting scr efektif
- blok bro ore besar bisa menyumbat grawpoints
- ventilasi susah
- rongga yang besar
- losses dan dilusi besar
- memerlukan periode yg lama sblm stope berprod


2. Stope dgn penyanggaan buatan:
2.1 Cut and fill stoping
Aplikasi:
- utk menggantikan sublevel stoping dan shrinkage stoping pd penambangan yg sangat dlm dimana tegangan batuan mjd sangat besar.
- batubara kompeten
- hanging dan foot boleh tdk kompeten mengingat mereka akan hampir scr lanmgsung disangga dgn material filling
- bjh dgn batas yg tdk teratur dan bjh yg discontinue, mk dilakukan penambangan pd bijih kadar tinggi dan meninggalkan bijih kadar rendah sbg filling
- utk mengambil pilar kadar tinggi
- dip <65 -="" :="" bisa="" dilusi="" filling="" keuntungan="" memberi="" menyebabkan="" metode="" selektifitas="" tk=""> tinggi dibanding shringkage dan sublevel stoping
- ventilasi mudah diatur
- dilusi seminimum mungkin
- dinding antara 2 stope yg berdekatan bias lebih tipis disbanding metode stoping yg lain
- stope fleksibel mengikuti ceb sempit kadar tinggi
- stope stabil krn ddg yg lemah disangga dgn waste filling

Kerugian :
- butuh material filling mahal
- butuh buruh banyak utk menangani filling
- butuh banyak air utk pulp
- lebih mahal disbanding shrinkage dan sublevel stoping
- semen dan psr halus utk filling bias menyumbat pompa/pipa
- output dr stope terbatas krn adanya kegiatan filling

2.2 Shringkage stoping
Shrikage stoping adalah sistem penggaliannya dilakukan secara over hand. Shrinkage stoping diterapkan untuk badan bijih yang besar, kemiringan 50˚-90˚ (sleeply). Metode ini terletak antara kelas open stope dan filled stope. Bijih dihancurkan secara metode overhand dan dibiarkan terkumpul dalam stope. Mengingat bijih akan mengembang dila dihancurkan makia sekitar 35% dari volume batuan yang dihancurkan setiap peledakan harus diambil untuk memberikan ruangan yang cukup dagi pekerja untuk bekerja diantara bagian atas bijih lepas dengan atap.

2.3 Square-set stoping
Adalah penambangan secara overhand stoping dengan memakai penyangga kayu berbentuk segiempat. Setiap kemajuan stope selalu diikuti dengan penyanggaan.
Digunakan untuk :
Endapan bijih berbentuk vein
Bijih dan batuan samping lemah (mudah retak)
Nilai bijih tinggi, karena biaya mahal
Lebar bijih minimal 3 meter

2.4 stull stoping
Adalah penambangan yang biasa dilakukan baik secara overhand maupun underhand. Penyanggaan memakai balok kayu yang dipasang melintang menghubungkan footwall dan hanging wall. Setiap kemajuan selalu diikuti dengan penyanggaan.
Persyaratan :
Untuk endapan bijih berbentuk vein
Bijih dan batuan samping lemah (mudah retak)
Nilai bijih tinggi, karena biaya mahal
Lebar bijih 1-2 meter, atau sampai batas panjang balok


2.5 longwall mining
long wall mining adalah sistim penambangan batuabara berbentuk lubang buka (lihat Longwall) berbentuk “Dinding Panjang” atau “ Ruang Panjang” . Sistim ini memotong batubara dengan alat potong berputar biasanya bertenaga hidrolis dimana pekerja dan peralatan aktif disangga dengan penyangga hidrolik berbentuk tiang penyangga dan payung (kanopi) yang dimajukan mengikuti kemajuan pemotongan batuabara. Atap lubang buka dibelakang alat penyangga dibiarkan ambruk. Sistim penambangan longwall lama menggunakan cara peledakan untuk mengekstraksi (merontokkan) batubara dimana lubang aktif disangga dengan tiang-tiang hidrolis, atau tiang mekanis ataupun balok-balok kayu. Batubara yang dirontokkan dipermukaan tambang ditampung oleh rangkaian pelat-pelat yang digerakkan dengan rantai (stage loader) dan seterusnya masuk kedalam conveyor pengangkut menuju permukaan.

Metode caving:
- Sub level caving
- Block caving

Open stope alamiah:
- Cebakan dgn bijih dan dinding yg kuat, kecuali pd ceb yg tipis yg datar/ sedikit miring dimana dpt di Tambang dgn sistem mundur
- Penyangga brp bijih shg bijih tdk dpt diambil.
- Penambangan scr selektif
- Pd cebakan datar, dimungkinkan melakukan sortasi bijih di bwh tnh, sedang utk steep dip sortasi dilakukan scr terbatas
- Terbatas pd cebakan tabular dgn btk teratur, ddg batas jelas ttp bias juga utk cebakan besar, menggumpal, irregular.

Share
 
;