Jumat, 28 Maret 2014 1 komentar

Klasifikasi Cadangan

Salah satu hal yang menentukan dalam pengusahaan batubara adalah besarnya potensi cadangan batubara di daerah yang bersangkutan . Beberapa klasifikasi cadangan yang ada mengacu kepada standart yang ditetapkan  oleh USGS (United State Geology Survey ) dan standart yang diterapkan oleh GSQ ( Geological Survey of  Queensland ) adalah sebagai berikut :
Secara umum ada dua istilah cadangan , yaitu :
1. Coal Resource ( Sumber Batubara )
Adalah cadangan batubara yang ada dipermukaan tanah yang menguntungkan / berpotensi untuk dimanfaatkan dalam setiap pembentukan dan jumlahnya untuk ditambang  .Ada 3 ( tiga ) kategori Coal resource yang dikenal yaitu :

a. Measured Coal Resource (Pengukuran Sumber Batubara )
Sering juga disebut Proven Resource atau Confirmed Resource atau Positive Resource  , adalah cadangan batubara yang dari tingkat kerapatan dan kualitas datanya yang layak dan dapat dipercaya untuk perhitungan ketebalan , kualitas kedalaman dan tonnage cadangan insitu . Dasar perhitungannya adalah sebagai berikut :
- Jarak spasi antara titik bor > 1 km
- Radius dari pengamatan  terakhir > 0.5 km
- Tebal batubara relatif konstan
- Lapisan batubara menerus ( tidak terputus ) , bila tidak menerus maka  maka jarak pengamatan harus dipersempit lagi .
- Titik pengamatan dalam satu lapisan batubara yaitu Outcrop , trencing  area kerja tambang dalam titik bor.
- Khusus untuk data batubara dari drilling yang dipakai data coring saja dengan recovery minimum 90 %.

b. Indicated Coal Resource ( Tertunjuk Sumber Batubara )
Adalah cadangan batubara estimasi yang dihitung atas control titik – titik  pengamatan yang dimiliki . Dasar perhitungannya adalah sebagai berikut :
- Jarak antara titik pengamatan maksimum 2 km.
- Radius dari data point terakhir  maksimum 1 km.
- Tebal lapisan batubara relative konstan .
- Lapisan batubara menerus atau tidak menerus ( terputus ).
Titik pengamatan dalam satu lapisan batubara yaitu Outcrop ( singkapan bagian – bagian luar ), trencing ( pembuatan parit/ channel ) guna mengetahui out crop di ujung cropline (garis singkapan ) , daerah kerja tambang dalam titik bor .
Khusus untuk data batubara dari  bor samping dari hasil coring bias juga dari data non coring yang didukung dari data loging.

c. Inferred Coal Resource ( Terduga Sumber Batubara )
adalah cadangan batubara terduga yang diluar sumber terukur dan sumber tertunjuk dihitung atas kontrol titik – titik pengamatan yang spasinya sangat jauh atau titik pengamatannya kurang akurat untuk diambil dasar perhitungan . Ada 2 (dua) jenis coal resource berdasarkan keakuratan titik pengamatannya, yaitu :
- Inferred Coal Resource  Class I
Sering juga disebut Assumed Coal Resource adalah cadangan batubara terduga yang dihitung atas dasar spasi titik pengamatan  maksimum 4 km dan radius terluar dari titik pengamatan yang paling ujung tidak lebih dari 2 km.
- Inferred coal Resource Class II
   Adalah cadangan batubara yang minim atau kurang dengan data dan dihitung atas dasar perkiraan ketebalan batubara yang diukur serta dihitung oleh pertimbangan komdisi regional saja.
Jika ditemukan adanya lapisan yang tidak menerus , maka dasar perhitungannya adalah sebagai berikut :
- Jarak spasi antar titik bor > 0,5
- Radius dari titik pengamatan terakhir > 100 m


Parameter yang ditetapkan untuk sumberdaya batubara ( coal resources ) adalah sebagai berikut :


2. Coal Reserves
            Adalah cadangan batubara yang secara ekonomis dapat diambil atau diproduksi berdasarkan pertimbangan kondisi – kondisi yang berlangsung pada saat sekarang ini . kondisi – kondisi itu meliputi antara lain :
a. Keadaan lingkungan  ( Environment )
   Yaitu berhubungan dengan lokasi pemukiman , pertanian hutan lindung , jalan raya instalasi listrik dan sarana lainnya yang tidak memungkinkan lagi untuk dijadikan lahan tambang . Perhitungan cadangan harus dilakukan diluar lokasi ini , dan perlu diperhitungkan juga untuk penentuan lokasi pembuanggan  tanah penutup ( disposal area ) , jalan tambang , jalan untuk pengangkutan batubara dan lokasi penumpukan batubara , pengolahan batubara , serta penentuan spesifikasi kualitas batubara yang akan dijual.
b. Peraturan pemerintah
   Adalah peraturan pemerintah yang berhibungan dengan perijinan penambangan , undang – undang lingkungan dan reklamasi ,dan peraturan – peraturan lainnya yang bersifat mengikat kepada pengusaha pertambangan  yang akhirnya akan berpengaruh kepada  nisbah penambangannya (stripping ratio) , spesifikasi kualitas batubara dan jumlahnya .


c. Teknologi
   Erat hubungannya dengan luas areal pertambangan tingkat kesulitan dalam penggambilan batubara dan topografi daerah tempat batubara itu ditemukan .Teknologi menyangkut macam alat yang digunakan , jumlahnya dan kapasitas masing –masing alat tersebut . Ketiga kondisi diatas juga menpengaruhi harga jual batubara.

Ada tiga macam kategori Coal Reserves
2.1 Mineable reserves
            Adalah cadangan batubara insitu dari cadangan terukur (measured) atau cadangan terindikasi ( indicated ) yang dapat ditambang atas pertimbangan lingkungan , peraturan pemerintah dan teknologi yang ada pada saat ini . Dasar perhitungan mineable reserves adalah sebagai berikut :
- Ketebalan minimal batubara yang ekonomis untuk diambil
- Ketebalan lapisan tanah penutup ( over  burden )
- Kualitas batubara yang sesuai spesifikasi penjualan
- Kedalaman maksimal perencanaan disesuaikan dengan kondisi alat yang ada
- Metoda penambangan tambang terbuka atau tambang bawah tanah 
- Nisbah penambangan atau stipping ratio atas pertimbangan harga jual batubara dan biaya operasi penambangan yang berlaku pada saat ini .

2.2 Recoverable Reserves
            Adalah cadangan batubara dari mineable yang pasti tertambang atas dasar pertimbangan biaya operasi penambangan yang diterapkan pada saat ini .
Dasar perhitungan  recoverable reserves adalah :
- Jumlah optimal batubara yang ekonomis untuk ditambang
- Kualitas batubara yang sesuai dengan spesifikasi penjualan
- Jumlah maksimal lapisan tanah penutup ( over burden ) yang dapat diangkut kelokasi pembuangan ( disposal area )  berdasarkan faktor kemiringan tambang , kelongsoran , pengendalian air permukaan dan pembuatan jalan menuju lokasi pembuangan.

- Kedalaman maksimal perencanaan tambang disesuaikan dengan kondisi dan jumlah alat  yang ada .
- Metode penambangan  tambang terbuka  ( open pit) atau tambang bawah tanah  ( underground mining ) .
- Faktor perolehan penambangan maksimal  90 % untuk open pit dan 50% -60 % untuk underground mining
- Penentuan nisbah penambangan atau stripping ratio yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan harga jual batubara dan biaya operasi yang berlaku pada saat ini.

2.3 Marketable Reserves
            Adalah cadangan batubara dari recoverable reserves yang dapt dijual atas pertimbangan sampainya batubara pada lokasi terakhir ( stokpile ) , coal handling dan kualitas batubaranya . Dasar perhitungan dari marketable reserves  adalah :
- Jumlah optimal batubara yang terangkut ke stokpile (run of mine)
- Jumlah optimal batubara yang dapat terjual dengan pertimbangan spesifikasi kualitas batubara yang diminta oleh pembeli , atau kontrak penjualan pada saat ini .
- Kualitas batubara untuk menentukan harga jual batubara pada saat ini .
            Parameter untuk perhitungan cadangan batubara ( coal recerves) menurut standar yang diterapkan oleh USGS (United States Geology Survey ) dan GSQ (Geologycal Survey of Queesland ) yang dibuat berdasarkan jenis batubarannya yaitu lignit ,bituminous ,sub bituminous dan antrasit mencakup aspek – aspek sebagai berikut :
- Geologi , meliputi kemiringan batubara , tebal , struktur geological local  , litologi , jenis , kekompakan batuan , densitas batubara , kemenerusan batubara.
- Teknik penambangan
- Rancangan kemiringan penambangan
- Rancangan kemiringan penumpukan lapisan tanah penutup
- Jarak menuju lokasi pembuangan lapisan tanah penutup .
- Lebar jalan tambang.
- Lebar minimal areal kerja
- Faktor pengembangan
- Biaya operasi penambangan
            Parameter yang digunakan untuk penetuan cadangan batubara ( coal    reserves ) adalah sebagai berikut:



Sumber:
1.      Wier, E  Charles, “ Engineering Coal deposits for Surface Mining”, Coal  Exploration, Amax Coal Company.
2.      Abdul Rauf  1999,Perhitungan Cadangan Endapan Mineral , Jurusan Teknik Pertambangan .




Share
Jumat, 27 Desember 2013 0 komentar

Tambang Bawah Tanah

Tambang Bawah Tanah
1. Teori Dasar
Tambang bawah tanah (tambang dalam) adalah metoda penambangan yang segala kegiatan penambangan dilakukan di bawah permukaan bumi / tidak berhubungan dengan udara luar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan sistem tambang Bawah Tanah :
1. Panjang Tebal dan lebar cebakan.
Berpengaruh utk menentuikan dimensi stope maksimum yaitu yg dikenal sbg minimum stoping width.
2. Kemiringan Cebakan
Menentukan kemungkinan memanfaatkan gravitasi dlm operasinya.
3. Kedalaman Operasi
Rock Failure mjd lebih memungkinkan pd kedalaman yg besar.
4. Faktor waktu
Berpengaruh pd strenght stress ratio pd exposed rock. Semakin lama waktu pilar berdiri mk ssr semakin turun
5. Kadar cebakan
Cebakan kdr rendah perlu met produksi besar yg sering melupakan %tase recovery, ceb kdr tinggi memerlukan met yg menjamin recovery tinggi.
6. Fasilitas lokal yg meliput buruh dan material.
Biaya buruh mahal mk memerlukan met yg mpy mekanisme tinggi. Ketersediaan timber dan material filling juga berpengaruh.
7. Modal yg tersedia.
Modal kerja awal besar mk biaya operasi rendah. Perusahaan dgn modal kecil memerlukan development yg murah dan metode yang cepat mendapatkan hasil.
8. Batas dgn badan bijih lain.
Tingkat tegangan yg tinggi mungkin timbul pd pilar di perm kerja yg berdekatan mk diperlukan filling pd stope bekas penambangan utk mengurangi tegangan yg tinggi.
9. Strength dan karakteristik phisik bijih dan batuan atau material yg berada di atas bjh.
Berpengaruh pd kompetensi, amblesan, kemudahan pemboran, karakteristik breaking, cara handling, ventilasi dan pemompaan.

Karakteristik-Karakteristik tsb termasuk :
Tipe batuan, tipe dan penyebaran alterasi, weaknesses seperti (perlapisan schistocity belahan min patahan jointing cavities dan spasi),weaknesses sepanjang ddg cebakan, kecenderungan min berharga menghasilkan rich fines atau mud, kecenderungan BO utk memadat/menggumpal, kecenderungan BO teroksidasi dan terbakar, Terjadinya swelling pd lantai, Abrasiveness, terdapatnya air porositas dan permeabilitas cebakan dan bat sekitarnya.

10. Biaya Penambangan
berkaitan dgn nilai bijih yg di Tambang, periode modal kerja bisa diperoleh kembali, tipe keahlian buruh yg tersedia.
11. Produktivitas Dinyatakan dlm ton per man shift yaitu menyatakan kemampuan setiap tenaga kerja menghasilkan BO setiap gilir kerja.
12. Masalah Lingkungan Keamblesan, berkurangnya hutan lokal utk penyanggaan, kualitas dumpsite dll.


Sistem-Sistem Tambang Bawah Tanah:
1. Stope dgn penyanggaan alamiah:
1.1 Open Stope Overhand Stoping:
Aplikasi:
- Endapan dgn tebal 3-4 m
- Dip 50 yg memungkinkan memanfaatkan gravitasi pd pemindahan bo
- Sbg metode keuntungan utk menganbil badan bjh yg terpisah dr bb utama atau bag dr bb utama yg memberikan kondisi yg cocok.
- Hangingwall dan footwall kompeten utk mengurangi pemakaian ore pilar.
- Bijih kompeten
- Pd urat dgn kemiringan besar >50 pekerja tdk bias berdiridi footwall shg perlu membuat platform utk berpijak

Keuntungan :
- Pos back tdk bahaya krn penambangan mengikuti back shg interval level bisa > dibanding open stope underhand stoping
- Sorting sistematis
- Waste mudah ditumpuk pd daerah tambang
- Kondisi kerja aman, kondisi aplikasi elatis
- pd kemiringan yg kecil Bro ore jatuh pd haulage drive scr gravitasi

Kerugian :
- Unjuk pemboran turun
- Dip > 45 diperlukan patform utk berpijak
- Material penyangga banyak
- kehilangan bjh uk hls kadar tinggi lebih besar

1.2 Open Stope Breast stoping (Stop and Pillar):
Aplikasi:
- Cebakan tdk bernilai tinggi yg mengijinkan sejumlah bijih ditinggal sbg pilar
- Ketebalan < 7m - Cebakan > 7 m mungkin ditambang ttp loss bjh dan atap runtuh semakin besar
- Dip 20-50: horizon mining yaitu stope n pillar yg diterapkan utk cebakan mendatar/ hampir datar
inclined : 20 –30, penambangan searah kemiringan dan tdk memungkinkan pemakaian mobile equipment step mining : 30-50, penamabangan scr berurutan utk menghasilkan daerah kerja dgn kemiringan yg memungkinkan menggunakan mobile equipment.
- Batuan atap dan lantai kuat, utk meminimalkan pemakaian pilar
- Bijih hrs kuat utk mengurangi lebar pilar
- Kedalaman tdk terlalu besar utk mengurangi beban yg harus disangga pilar

Keuntungan :
- biaya rendah
- memungkinkan seleksi pd stope dan waste ditinggal pd ruang kosong
- memungkinkan melakukan mekanisasi dr drilling sampai loading dgn used trackless
- development cepat dan dev dilakukan pd bijih itu sendiri
Kerugian :
- kehilangan bijih pd pilar sampai 40% jk dgn pilar robbing mjd 20%
- Bahaya runtuhan dr hanggingwall, dan bila hangingwall mpy joint dan crack yg sejajar memungkinkan runtuhan slab bat yg besar.
- Daerah ventilasi sangat luas.

1.3 Sublevel stoping:
Aplikasi:
- dip 50-90 (steeply) yaitu kemiringan fw> drpd sudut gelincir bo
- hanging dan fotter hrs kompeten
- bjh hrs kompeten
- bjh dgn batas penyebaran kadar merata
- bjh sulfur butuh penanganan flotasi

Keuntungan :
- mengurangi drilling delay utk peledakan,scaling, mucking
- pemb scr kontinue pd dev.
- Longhole driller dpt diledakan di seluruh stope utk give bro ore yg banyak.
- Fleksibel
- Aman dr kebakaran

Kerugian :
- tdk mungkin melakukan sorting scr efektif
- blok bro ore besar bisa menyumbat grawpoints
- ventilasi susah
- rongga yang besar
- losses dan dilusi besar
- memerlukan periode yg lama sblm stope berprod


2. Stope dgn penyanggaan buatan:
2.1 Cut and fill stoping
Aplikasi:
- utk menggantikan sublevel stoping dan shrinkage stoping pd penambangan yg sangat dlm dimana tegangan batuan mjd sangat besar.
- batubara kompeten
- hanging dan foot boleh tdk kompeten mengingat mereka akan hampir scr lanmgsung disangga dgn material filling
- bjh dgn batas yg tdk teratur dan bjh yg discontinue, mk dilakukan penambangan pd bijih kadar tinggi dan meninggalkan bijih kadar rendah sbg filling
- utk mengambil pilar kadar tinggi
- dip <65 -="" :="" bisa="" dilusi="" filling="" keuntungan="" memberi="" menyebabkan="" metode="" selektifitas="" tk=""> tinggi dibanding shringkage dan sublevel stoping
- ventilasi mudah diatur
- dilusi seminimum mungkin
- dinding antara 2 stope yg berdekatan bias lebih tipis disbanding metode stoping yg lain
- stope fleksibel mengikuti ceb sempit kadar tinggi
- stope stabil krn ddg yg lemah disangga dgn waste filling

Kerugian :
- butuh material filling mahal
- butuh buruh banyak utk menangani filling
- butuh banyak air utk pulp
- lebih mahal disbanding shrinkage dan sublevel stoping
- semen dan psr halus utk filling bias menyumbat pompa/pipa
- output dr stope terbatas krn adanya kegiatan filling

2.2 Shringkage stoping
Shrikage stoping adalah sistem penggaliannya dilakukan secara over hand. Shrinkage stoping diterapkan untuk badan bijih yang besar, kemiringan 50˚-90˚ (sleeply). Metode ini terletak antara kelas open stope dan filled stope. Bijih dihancurkan secara metode overhand dan dibiarkan terkumpul dalam stope. Mengingat bijih akan mengembang dila dihancurkan makia sekitar 35% dari volume batuan yang dihancurkan setiap peledakan harus diambil untuk memberikan ruangan yang cukup dagi pekerja untuk bekerja diantara bagian atas bijih lepas dengan atap.

2.3 Square-set stoping
Adalah penambangan secara overhand stoping dengan memakai penyangga kayu berbentuk segiempat. Setiap kemajuan stope selalu diikuti dengan penyanggaan.
Digunakan untuk :
Endapan bijih berbentuk vein
Bijih dan batuan samping lemah (mudah retak)
Nilai bijih tinggi, karena biaya mahal
Lebar bijih minimal 3 meter

2.4 stull stoping
Adalah penambangan yang biasa dilakukan baik secara overhand maupun underhand. Penyanggaan memakai balok kayu yang dipasang melintang menghubungkan footwall dan hanging wall. Setiap kemajuan selalu diikuti dengan penyanggaan.
Persyaratan :
Untuk endapan bijih berbentuk vein
Bijih dan batuan samping lemah (mudah retak)
Nilai bijih tinggi, karena biaya mahal
Lebar bijih 1-2 meter, atau sampai batas panjang balok


2.5 longwall mining
long wall mining adalah sistim penambangan batuabara berbentuk lubang buka (lihat Longwall) berbentuk “Dinding Panjang” atau “ Ruang Panjang” . Sistim ini memotong batubara dengan alat potong berputar biasanya bertenaga hidrolis dimana pekerja dan peralatan aktif disangga dengan penyangga hidrolik berbentuk tiang penyangga dan payung (kanopi) yang dimajukan mengikuti kemajuan pemotongan batuabara. Atap lubang buka dibelakang alat penyangga dibiarkan ambruk. Sistim penambangan longwall lama menggunakan cara peledakan untuk mengekstraksi (merontokkan) batubara dimana lubang aktif disangga dengan tiang-tiang hidrolis, atau tiang mekanis ataupun balok-balok kayu. Batubara yang dirontokkan dipermukaan tambang ditampung oleh rangkaian pelat-pelat yang digerakkan dengan rantai (stage loader) dan seterusnya masuk kedalam conveyor pengangkut menuju permukaan.

Metode caving:
- Sub level caving
- Block caving

Open stope alamiah:
- Cebakan dgn bijih dan dinding yg kuat, kecuali pd ceb yg tipis yg datar/ sedikit miring dimana dpt di Tambang dgn sistem mundur
- Penyangga brp bijih shg bijih tdk dpt diambil.
- Penambangan scr selektif
- Pd cebakan datar, dimungkinkan melakukan sortasi bijih di bwh tnh, sedang utk steep dip sortasi dilakukan scr terbatas
- Terbatas pd cebakan tabular dgn btk teratur, ddg batas jelas ttp bias juga utk cebakan besar, menggumpal, irregular.

Share
Senin, 14 Oktober 2013 0 komentar

Perusahaan Tambang Mesti Harus Bangun Smelter

JAKARTA. Pemerintah menegaskan kewajiban pengolahan dan pemurnian seperti diamanatkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tidak berarti perusahaan tambang harus membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) sendiri.
Thamrin Sihite, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan perusahaan tambang dapat memenuhi kewajiban dengan menyuplai mineral mentah kepada smelter dalam negeri atau bergabung dengan konsorsium yang membangun smelter.
“Mereka tidak harus bikin smelter tetapi diwajibkan mengolah dan memurnikan di dalam negeri. Mereka bisa saja kerja sama dengan perusahaan smelter yang mau nampung ore (bijih) mereka atau gabung dengan konsorsium yang lain. Intinya peningkatan nilai tambah itu biar ore ini tidak dibawa keluar tetapi diolah serta dimurnikan di dalam negeri,” kata Thamrin kepada Finance Today, Selasa.
Thamrin mengatakan kewajiban pengolahan dan pemurnian memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar bagi ekonomi nasional. Selain menambah jumlah tenaga kerja, perusahaandapat memperoleh nilai tambah yang selama ini dinikmati negara lain. Hal yang juga penting adalah mineral-mineral ikutan dalam mineral mentah tidak dapat diolah dan berpotensi menambah keuntungan perusahaan.
“Selama ini nikel ore dibawa keluar padahal kandungnya nikelnya maksimal dua persen, 98% itu ada banyak mineral ikutan. Di situ juga ada mineral-mineral tanah jarang yang sangat berharga,” kata dia.
Martiono Hardianto, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Indonesia (Indonesia Mining Association/IMA), sebelumnya mengatakan kewajiban pemurnian mineral tidak bisa diseragamkan untuk semua jenis mineral. Studi yang dilakukan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung menunjukan jenis mineral yang ekonomis untuk dimurnikan adalah bauksit, nikel, dan bijih besi. Sementara tembaga dan zink tidak ekonomis untuk dimurnikan di dalam negeri.
Dia mengatakan tiga komoditas itu jika diolah akan meningkatkan nilai tambah 70% terhadap price base. Konsentrat tembaga telah mencapai 95% dari price base. Jika dimurnikan, nilai tambahnya hanya 5%, namun dengan nilai investasi hampir setengah dari investasi untuk pengolahan oremenjadi konsentrat.
Pengolahan ore menjadi konsentrat tembaga sekitar USS 20 ribu per ton, tetapi pemurnian tembaga (nilai tambah 5%) membutuhkan investasi US$ 10 ribu per ton.
Meniru Nemwont
Menurut Thamrin, perusahaan tambang yang masih menyatakan pembangunan smelter tidak ekonomis dilakukan sendiri dapat meniru langkah kerja sama PT Newmont Nusa Tenggara, PT Indosmelt dan PT Nusantara Smelter.
Newmont telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk memasok konsentrat bagi smelter PT Indosmelt.
Newmont Nusa Tenggara, anak usaha Newmont Mining Corporation, telah menyatakan siap memasok konsentrat untuk smelter yang akan dibangun di dalam negeri.
Rubi W Purnomo, Juru Bicara Newmont Nusa Tenggara, mengatakan Newmont telah menandatangani MoU dengan beberapa perusahaan smelter dalam negeri untuk memasok konsentrat dari tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat
“Untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait kebijakan peningkatan nilai tambah dalam negeri, saat ini kami sudah menjalin MoU dengan perusahaan-perusahaan smelting dalam negeri, termasuk PT Indosmelt,” ungkap dia kepada Finance Today.
Freeport Indonesia, anak usaha Freeport McMoRan Copper-Gold, perusahaan tambang asal Amerika Serikat juga sedang melakukan pembicaraaan dengan Indosmelt untuk kebutuhan suplai konsentrat.
Daisy Primayanti, Head of Corporate Communication Freeport Indonesia, mengatakan pembicaraan itu belum menghasilkan kesepakatan.
“Kami masih terus lakukan pembicaraan (due diligence) dengan Indosmelt dan belum ada MoU final,” kata dia kepada Finance Today.
Menurut Daisy, sejauh ini ada tiga kandidat perusahaan smelter nasional yang sedang dalam proses pembicaraan awal dengan Freeport Indonesia untuk pasokan konsentrat, termasuk Indosmelt.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Indonesia Finance Today, 24 Juli 2013
Share
Selasa, 10 September 2013 3 komentar

Potensi Industri Pertambangan Indonesia Masih Positif


Suasana Kegiatan Penambang di martabe


JAKARTA – Lembaga survei Pricewaterhousecoopers (PwC) Indonesia kembali meluncurkan “Survey Mining Indonesia 2013” di Jakarta, Kamis, 30 Mei 2013. Hasil survei tahunan yang ke-11 itu menunjukkan para pelaku industri pertambangan masih memandang positif potensi dalam berinvestasi di sektor mineral dan batubara di Indonesia.

Peneliti PwC Indonesia, Ali Mardi mengungkapkan, hasil survei lembaganya menunjukkan bahwa 2011 dan 2012 merupakan tahun perubahan peruntungan di industri pertambangan di Indonesia. Perbaikan kinerja keuangan dalam bisnis tambang di 2011, berbalik menjadi memburuk di 2012, akibat ketidakpastian ekonomi global dan penurunan harga komoditas.

Meski demikian, ujarnya, pelaku industri pertambangan di Indonesia masih memandang positif potensi investasi di sektor ini, dengan adanya ketertarikan untuk penemuan cadangan berbagai jenis mineral, ditengah tantangan yang mengiringinya.

Survei PwC juga menunjukkan, para investor tetap menempatkan Indonesia, dalam ranking yang tinggi dalam hal prospek mineral. Namun situasi ini diperlemah oleh kondisi kebijakan pemerintah dan iklim investasi kurang menguntungkan, bahkan semakin memburuk.

”Persepsi ini akan menghambat pertumbuhan investasi pada industri pertambangan Indonesia di masa depan,” tukas Ali. Namun dari sisi kinerja, meski dihadapkan pada situasi global yang sulit dan ketidakpastian kebijakan, industri pertambangan Indonesia masih mampu mencatatkan kenaikan kontribusi sebesar 15% di 2011 dan 2012, terutama dari pertambangan batubara.

Untuk tahun ini, lanjut Ali, survei PwC mencakup seluruh wilayah geografi Indonesia, dan semua mineral utama termasuk batubara, emas, tembaga, nikel, dan timah. Kontribusi industri tambang terhadap ekonomi Indonesia secara keseluruhan terus meningkat. Sektor pertambangan menyumbang 5% – 6% pada PDB Indonesia pada 2011 dan 2012, dan lebih dari 17% untuk penerimaan ekspor.
Tambang Emas Martabe sendiri, yang berlokasi di Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sepanjang Kuartal I-2013 kinerja produksinya berhasil melampaui target. Presiden Direktur Tambang Emas Martabe, Peter Albert menuturkan, Martabe akan menjadi standar acuan bagi G-Resources untuk menjalankan bisnisnya di Indonesia dan di wilayah lainnya, dan terus bertumbuh dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja, kelestarian lingkungan, dan pengembangan komunitas.    

Sumber : http://www.greatmartabe.com/pwc-potensi-industri-pertambangan-indonesia-masih-positif/

Share
Rabu, 13 Maret 2013 0 komentar

Metode eksplorasi



Metoda dalam eksplorasi dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu :

1.      Metoda langsung, terdiri dari :
                  a.      Metoda langsung di permukaan
                  b.      Metoda langsung di bawah permukaan
2.      Metoda tidak langsung, terdiri dari :
      a.      Metoda tidak langsung cara geokimia yang mencakup antara lain mengenai bed   rock, soil, air, vegetasi dan stream deposit.
      b.      Metoda tidak langsung cara geofisika yang mencakup beberapa cara yaitu cara magnetik (sudah jarang digunakan), gravitasi (sudah jarang digunakan), cara seismik yang terdiri dari cara reflaksi dan refleksi, cara listrik (resistifity), dua cara yang terakhir yaitu cara radiokatif yang masih jarang digunakan, hal ini disebabkan karena cara ini relatif lebih mahal dan lebih rumit dari cara-cara sebelumnya.
 
1.      Metoda Langsung
      A.     Metoda Langsung Permukaan
Metoda ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu :
     a.    Penyelidikan singkapan (out crop)
      Singkapan segar umumnya dijumpai pada :
       1. Lembah-lembah sungai, hal ini dapat terjadi karena pada lembah sungai terjadi   pengikisan oleh air sungai sehingga lapisan yang menutupi tubuh batuan tertransportasi yang menyebabkan tubuh batuan nampak sebagai singkapan segar
      2.  Bentuk-bentuk menonjol pada permukaan bumi, hal ini terjadi secara alami yang  umumnya disebabkan oleh pengaruh gaya yang berasal dari dalam bumi yang disebut gaya endogen misalnya adanya letusan gunung berapi yang memuntahkan material ke permukaan bumi dan dapat juga dilihat dari adanya gempa bumi akibat adanya gesekan antara kerak bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya patahan atau timbulnya singkapan ke permukaan bumi yang dapat dijadikan petunjuk letak tubuh batuan.

      b.    Tracing Float (penjejakan)
               Float adalah fragmen-fragmen atau potongan-potongan biji yang berasal dari penghancuran singkapan yang umumnya disebabkan oleh erosi, kemudian tertransportasi yang biasanya dilakukan oleh air, dan dalam melakukan tracing kita harus berjalan berlawanan arah dengan arah aliran sungai sampai float dari bijih yang kita cari tidak ditemukan lagi, kemudian kita mulai melakukan pengecekan pada daerah antara float yang terakhir dengan float yang sebelumnya dengan cara membuat parit yang arahnya tegak lurus dengan arah aliran sungai, tetapi jika pada pembuatan parit ini dirasa kurang dapat memberikan data yang diinginkan maka kita dapat membuat sumur uji sepanjang parit untuk mendata tubuh batuan yang terletak jauh dibawah over burden.
     c.    Tracing dengan Panning (mendulang)
Caranya sama seperti tracing float, tetapi bedanya terdapat pada ukuran butiran mineral yang dicara biasanya cara ini digunakan untuk mencari jejak mineral yang ukurannya halus dan memiliki masa jenis yang relatif besar. Persamaan dari cara tracing yaitu pada kegiatan lanjutan yaitu trencing atau test pitting.
Cara-cara tracing, baik tracing float maupun tracing dengan panning akan dilanjutkan dengan cara trenching atau test pitting.
v  Trenching (pembuatan parit)
Pembuatan parit memiliki keterbatasan yaitu hanya bisa dilakukan pada overburden yang tipis, karena pada pembuatan parit kedalaman yang efektif dan ekonomis yang dapat dibuat hanya sedalam 2 - 2,5 meter, selebih dari itu pembuatan parit dinilai tidak efektif dan ekonomis. Pembuatan parit ini dilakukan dengan arah tegak lurus ore body dan jika pembuatan parit ini dilakukan di tepi sungai maka pembuatan parit harus tegak lurus dengan arah arus sungai.
Paritan dibangun dengan tujuan untuk mengetahui tebal lapisan permukaan, kemiringan perlapisan, struktur tanah dan lain-lain.
v     Test Pitting (pembuatan sumur uji)
Jika dengan trenching tidak dapat memberikan data yang akurat maka sebaiknya dilakukan test pitting untuk menyelidiki tubuh batuan yang letaknya relatif dalam. Kita harus ingat bahwa pada test pitting kita harus memilih daerah yang terbebas dari bongkahan-bongkahan maka hal ini akan menyulitkan kita pada waktu pembuatan sumur uji dan juga daerah yang hendak kita buat sumur uji harus bebas dari air, karena dengan adanya air dapat menyulitkan kita pada waktu melakukan penyelidikan struktur batuan yang terdapat pada sumur uji yang kita buat. Pada pembuatan sumur uji ini kita juga harus mempertimbangkan faktor keamanan, kita harus dapat membuat sumur dengan penyangga sesedikit mungkin tetapi tidak mudah runtuh. Hal ini juga akan mempengaruhi kenyamanan pada waktu melakukan penelitian. Kedalaman sumur uji yang kita buat bisa mencapai kedalaman sampai 30 meter.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari penggalian sumur adalah gejala longsoran, keluarnya gas beracun, bahaya akan banjir dan lain-lain.
 
      B.      Metoda Langsung Bawah Permukaan
Eksplorasi langsung bawah permukaan dilakukan bila tidak ada singkapan di permukaan atau pada eksplorasi permukaan tidak dapat memberikan informasi yang baik, karena pada eksplorasi langsung permukaan, kedalaman maksimum yang dapat dicapai + 30 meter. Eksplorasi langsung bawah permukaan juga dapat dilakukan apabila keadaan permukaan memungkinkan untuk diadakan eksplorasi bawah permukaan, sebab apabila permukaan tidak memungkinkan, misalnya permukaan itu tergenang air atau tertutup bongkah batu yang tidak stabil, maka hal ini akan memberikan resiko yang besar jika dilakukan eksplorasi permukaan.
Dalam eksplorasi bawah permukaan ada hal-hal yang harus diperhatikan misalnya, pekerjaan harus berlangsung tetap didalam badan bijih, hal ini untuk memudahkan diadakan pengamatan dan proses sampling pekerjaan juga diusahakan dimulai dari daerah-daerah yang memiliki singkapan yang baik, karena dengan singkapan yang baik dapat memudahkan kita untuk menentukan strike atau dipnya, yang tidak kalah pentingnya yang harus diperhatikan adalah masalah biaya, dimana dalam pekerjaan eksplorasi ini biaya tidak boleh terlalu besar, hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dana yang terbuang percuma jika nantinya eksplorasi yang dilakukan hasilnya mengecewakan.
Eksplorasi bawah permukaan dapat dilakukan dengan membuat Tunel, Shaft, Drift, Winse dan lain-lain.
Tunnel   =   suatu lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar yang menembus kedua kaki bukit.
Shaft      =   suatu lubang bukaan yang menghubungkan tambang bawah tanah dengan permukaan bumi dan berfungsi sebagai jalan pengangkutan karyawan serta alat-alat kebutuhan tambang, ventilasi dan penirisan.
Drift       =   suatu bukaan mendatar yang dibuat dekat atau pada endapan bijih yang arahnya sejajar dengan jurus atau dimensi terpanjang dari endapan bijihnya (dalam pengeboran).
Winze    =   lubang bukaan vertikal atau arah miring yang dari “level” ke arah “level” yang dibawahnya.
Eksplorasi bawah tanah juga dapat dilakukan dengan pengeboran inti. Pengeboran sumur minyak yang pertama dilakukan oleh Kol. Drake pada tahun 1959 dengan menggunakan bor (RIG) permanen (tidak dapat dipindah-pindah) dan pada pengeborannya menggunakan sistem perkusif (tumbuk), pada pengeboran ini kedalaman maximum yang dapat dicapai adalah 60 ft (+ 20 m) dengan bor lurus (vertical drilling).
Saat ini pengeboran dilakukan dengan teknik bor putar (rotary drilling) dengan menara bor yang dapat dipindah-pindah (portablering) dan dilakukan dengan beberapa cara pengeboran yaitu dengan cara perkusif, rotasi atau dengan perkusif-rotasi. Pemboran dapat dilakukan di darat maupun di laut (on shore atau off shore). Pemboran tidak terbatas pada pemboran decara vertikal saja tetapi dapat dilakukan secara miring (kemiringan dapat mencapai 90o), apabila saat pengeboran kita menemukan batuan yang keras dan susah ditembus oleh mata bor, maka dengan teknologi sekarang, pipa yang berada jauh di dalam tanah dapat dirubah arahnya (dibelokkan) untuk menghidari batuan yang keras tersebut.
Pengeboran yang dilakukan pada eksplorasi bertujuan untuk mengambil contoh (sampling) untuk diamati, pengeboran juga bisa bertujuan untuk produksi atau konstruksi (misalnya air tanah, minyak bumi) dan pemboran dapat juga untuk memudahkan proses peledakan (pada kegiatan penambangan material keras). Dari data pengeboran dan sampling kita dapat membuat peta stratigrafi daerah pengeboran. Dari peta ini kita dapat mengetahui susunan batuan dan ketebalan cadangan dan akhirnya kita dapat memperkirakan besar cadangan secara keseluruhan.
 
2.      Metoda Tidak Langsung
A.     Metoda tidak langsung cara geofisika
Geofisika merupakan disiplin ilmu atau metoda untuk memperkirakan lokasi akumulasi bahan/tambang dengan cara pengukuran besaran-besaran fisik batuan bawah permukaan bumi. Metoda yang dapat dilakukan eksplorasi geofisika diantaranya :
a.      Metoda Gravitasi
Metoda ini berdasarkan hukum gaya tarik antara dua benda di alam. Bumi sebagai salah satu benda di alam juga menarik benda-benda lain di sekitarnya. Kalau sebuah bandul digantung dengan sebuah pegas, maka pegas tersebut akan merengganng akibat bandulnya mengalami gravitasi, di tempat yang gravitasinya rendah maka regangan tadi kecil dan di tempat yang gravitasinya besar maka regangan tadi juga lebih besar. Dengan demikian dapat diperkirakan bentuk struktur bawah tanah dari melihat besarnya nilai gravitasi dari bermacam-macam lokasi dari suatu daerah penyelidikan.
Di lapangan besarnya gravitasi ini diukur dengan alat yang disebut gravimeter, yaitu suatu alat yang sangat sensitif dan presisi. Gravimeter bekerja atas dasar “torsion balance”, maupun bantuk atau pendulum, dan dapat mengukur perbedaan yang kecil dalam gravitasi bumi di berbagai lokasi pada suatu daerah penyelidikan. Gaya gravitasi bumi dipengaruhi oleh besarnya ukuran batuan, distribusi atau penyebaran batuan, dan kerapatan (density) dari batuan. Jadi kalau ada anomali gravitasi pada suatu tempat, mungkin di situ terdapat struktur tertentu, seperti lipatan, tubuh intrusi dangkal, dan sebagainya. Juga jalur suatu patahan besar, meskipun tertutup oleh endapan aluvial, sering dapat diketahui karena adanya anomali gravitasi.

b.      Metoda Magnetik
Bumi adalah suatu planet yang bersifat magnetik, dimana seolah-olah ada suatu barang magnet raksasa yang membujur sejajar dengan poros bumi. Teori modern saat ini mengatakan bahwa medan magnet tadi disebabkan oleh arus listrik yang mengalir pada inti bumi. Setiap batang magnet yang digantung secara bebas di muka bumi. Di setiap titik permukaan bumi medan magnet ini memiliki dua sifat utama yang penting di dalam eksplorasi, yaitu arah dan intensitas.
Arah dari medan magnet dinyatakan dalam cara-cara yang sudah lazim, sedang intensitas dinyatakan dalam apa yang disebut gamma. Medan magnet bumi secara normal memiliki intensitas 35.000 sampai 70.000 gamma jika diukur pada permukaan bumi. Bijih yang mengandung mineral magnetik akan menimbulkan efek langsung pada peralatan, sehingga dengan segera dapat diketahui.
Metoda eksplorasi dengan magneti sangat berguna dalam pencarian sasaran eksplorasi sebagai berikut :
·         Mencari endapan placer magnetik pada endapan sungai
·         Mencari deposit bijih besi magnetik di bawah permukaan
·         Mencari bijih sulfida yang kebetulan mengandung mineral magnetit sebagai mineral ikutan
·         Intrusi batuan basa dapat diketahui kalau kebetulan mengandung magnetit dalam jumlah cukup
·         Untuk dapat mengetahui ketebalan lapisan penutup pada suatu batuan beku yang mengandung mineral magnetik.

c.       Metoda Seismik
Metoda ini jarang dipergunakan dalam penyelidikan pertambangan bijih tetapi banyak dipergunakan dalam penyelidikan minyak bumi. Suatu gempa atau getaran buatan dibuat dengan cara meledakan dinamit pada kedalaman sekitar 3 meter dari permukaan bumi dan kecepatan merambatnya getaran yang terjadi diukur. Untuk mengetahui kecepatan rambatan getaran tersebut pada perlapisan-perlapisan batuan, disekitar titik ledakan dipasang alat penerima getaran yang disebut geofon (seismometer). Geofon-geofon yang dipasang secara teratur di sekitar lobang ledakan tadi akan terbias atau refraksi. Dengan mengetahui waktu ledakan dan waktu kedatangan gelombang-gelombang tadi, maka dapat diketahui kecepatan rambatan waktu getaran melalui perlapisan-perlapisan batuan. Dengan demikian konfigurasi struktur bahwa permukaan dapat diketahui. Gelombang akan merambat dengan kecepatan yang berbeda pada batuan yang berbeda-beda. Geophone merupakan alat penerima gelombang yang dipantulkan kepermukaan, hidrophone untuk gelombang di dasar laut.
Cepat rambat gelombang seismik pada batuan tergantung pada :
1.      Jenis batuan
2.      Derajat pelapukan
3.      Derajat pergerakan
4.      Tekanan
5.      Porositas (kadar air)
6.      Umur (diagenesa, konsolidasi, dll)
H. Mooney (1977) mengatakan bahwa harga cepat rambat gelombang akan lebih besar (dibandingkan) :
      1.      Batuan beku basa                            :   batuan beku asam
2.      Batuan beku                                    :   batuan sedimen
      3.      Sedimen terkonsolidasi                   :   sedimen un-konsolidasi
      4.      Sedimen unkonsolidasi                    :   sedimen un-konsolidasi
      5.      Soil basah                                        :   soil kering
      6.      B. sedimen karbonat                       :   batupasir
      7.      Batuan utuh                                     :   batuan terkekarkan
      8.      Batuan segar                                   :   batuan lapuk
      9.      Batuan berat                                   : batuan ringan
      10.  Batuan berumur tua                        : batuan berumur muda

d.      Metoda Geolistrik
Dalam metoda ini yang diukur adalah tahanan jenis (resistivity) dari batuan. Yang dimaksud dengan tahanan jenis batuan adalah tahanan yang diberikan oleh masa batuan sepanjang satu meter dengan luas penampang satu meter persegi kalau dialiri listrik dari ujung ke ujung, satuannya adalah Ohm-m2/m atau disingkat Ohm-meter.
Dalam cara pengukuran tahanan jenis batuan di dalam bumi biasanya dipakai sistem empat elektrode yang dikontakan dengan baik pada bumi. dua elektrode dipakai untuk memasukan arus listrik ke dalam bumi, disebut elektrode arus (current electrode) disingkat C, dan dua elektrode lainnya dipakai untuk mengukur voltage yang timbul karena arus tadi, elektrode ini disebut elektrode potensial atau “potential electode” disingkat P. ada beberapa cara dalam penyusun ke empat elektode tersebut, dua diantaranya banyak yang dipakai adalah cara Wenner dan cara Shlumberger.
 
B.      Metoda tidak langsung cara geokimia
Pengukuran sistimatika terhadap satu atau lebih unsur jejak (trace elements) pada batuan, tanah, stream, air atau gas.
Tujuannya untuk mencari anomali geokimia berupa konsentrasi unsur-unsur yang kontras terhadap lingkungannya atau background geokimia.
Anomali dihasilkan dari mobilitas dan dispresi unsur-unsur yang terkonsentrasi pada zona mineralisasi. Anomali merupakan perbedaan-perbedaan yang mencolok antara satu titik atau batuan dengan titik lainnya.
Pada dasarnya eksplorasi jenis ini lebih cenderung untuk menentukan perbedaan mendasar (anomali) unsur-unsur yang terdapat pada tanah atau sampel yang kita cari. Proses untuk membedakan unsur ini dilakukan dengan beberapa reaksi kimia.
 
C.      Gabungan keduanya
Yaitu eksplorasi cara langsung dan eksplorasi tidak langsung.
Setelah mengetahui metodanya kita memasuki pemilihan alat dan pemilihan anggota serta apa-apa yang mesti dipersiapkan, misalkan sbb :
a.    Pemilihan anggota tim atau tenaga ahli
1.    Geologist
2.    Geophysist
3.    Exploration Geologist
4.    Geochemist
5.    Operator Alat, dll
b.    Rencana biaya
c.    Pemilahan waktu yang tepat
d.    Penyiapan peralatan atau perbekalan
e.    Sesampai di lapangan :
     1.    Membuat base camp (perkemahan)
     2.    Mencek peralatan atau perbekalan
     3.    Melakukan quick survey di daerah penelitian untuk menentukan langkah-langkah lebih lanjut
     4.    Menentukan evaluasi rencana dan perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan sebenatnya (bila perlu)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
sumber :- http://miningunited.blogspot.com/2009/03/metode-eksplorasi-langsung.html 
http://pertambangan-geologi.blogspot.com/2012/04/metode-eksplorasi.html

Share
 
;