Aspal alam hanya ditemukan di dua tempat di dunia ini, yaitu
Trinidad dan di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Keberadaan sumber
tambang ini telah diketahui pada 1920, tetapi tak tergali dengan baik.
Inovasi lalu dilakukan untuk mengolahnya secara efisien hingga mampu
menyaingi aspal dari minyak bumi yang mulai langka dan mahal.
Aspal merupakan salah satu material penting dalam pembuatan jalan di
Indonesia. Namun, karena kelemahannya, yaitu mudah hancur akibat beban
berat dan panas matahari serta genangan banjir, mendorong pihak
pengelola menggunakan beton berangka besi. Padahal, beton relatif lebih
mahal serta sulit pengerjaan dan perbaikannya.
Di
antara dua material itu ada aspal alam yang lebih optimal dibandingkan
keduanya. Aspal alam yang dikenal di dunia saat ini adalah Trinidad
Lake Asphalt (TLA). Padahal, selain dari Pulau Trinidad di Laut Karibia
itu ada aspal alam di Pulau Buton (Asbuton) yang sesungguhnya lebih
unggul.
Dari segi cadangan, Asbuton jauh lebih besar dari TLA. Cadangannya
mencapai 163,9 juta ton. Bahkan, perkiraan lain menyebutkan 450 juta
ton, berarti tergolong terbesar di dunia. Usia pemanfaatan cadangannya
ditaksir 200 tahun ke depan.
Meski kandungan aspal masih melimpah, sejak 1970-an, tambang ini
mulai ditinggalkan karena tingginya biaya operasi yang tidak lagi
sebanding dengan pendapatannya.
”Masalah sesungguhnya karena penerapan teknik ekstraksi atau
pemurnian konvensional yang tak efisien,” kata Lisminto, penemu
teknik baru pemurnian aspal Buton.
Dipisahkan
Pada proses lama, bitumen aspal lebih dulu dilarutkan dalam pelarut
organik, lalu dipisahkan dari unsur pelarutnya dengan cara destilasi.
Dengan cara ini sulit menarik bitumen atau material aspal yang
tersembunyi dalam matrik batuan induk. Karena itu, diperlukan
ekstraktor bertahap banyak. Ini artinya perlu investasi besar.
Lisminto, lulusan S-1 Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB)
ini, berhasil menemukan teknik baru. Pada teknik baru itu, pelarutan
aspal menggunakan kimia khusus dan proses pemurnian dilakukan dalam
media air laut.
Saat batuan induk pecah, bitumen akan keluar dengan sendirinya dan
mengapung di air asin. Karena itu, bitumen dengan mudah dapat
dipisahkan dari larutan. Proses ini dilakukan pada suhu dan tekanan
atmosfer sehingga memperkecil terjadinya pembakaran material.
Sederhana, mudah, dan murah, itulah kelebihan teknik yang disebutnya
”pemurnian aspal Buton dengan teknologi ekstraksi terbalik”.
Inovasi ini sesungguhnya bukan lagi tergolong baru karena telah
dipatenkan di lembaga paten Indonesia, Jepang, dan Australia pada 1996.
Aplikasi teknik ini, menurut dia, bisa menghemat devisa 75 juta
dollar AS karena investasi total hanya 25 juta dollar AS dengan
fabrikasi di dalam negeri. Sementara teknologi lain bisa mencapai 100
juta dollar AS.
Penggunaan sumber tambang di dalam negeri juga dapat menekan impor
aspal sebesar satu juta ton per tahun sehingga tercipta swasembada
aspal nasional. Sebab, teknologi ekstraksi terbalik ini dapat
menghasilkan aspal berkualitas tinggi dengan harga terjangkau.
Hal ini memungkinkan jaringan jalan kelas satu sebagai infrastruktur
industri juga berkembang. Dan, terbukanya industri di Buton akan
membuka lapangan kerja penduduk sekitar.
Hasil samping
Meski inovasi itu memiliki prospek bisnis dan sosial yang baik,
rupanya kemudian kurang mendapat sambutan pemerintah dan perusahaan
pertambangan. Hal ini tak membuatnya patah semangat. Secara konsisten,
Lisminto terus berkutat dengan riset aspal hingga pengembangan pabrik.
Pabrik percontohan berkapasitas satu ton per jam berhasil dibangun
dengan dana Rp 200 juta. Produknya telah diuji Puslitbang Jalan
Binamarga dan dinyatakan sebagai aspal bermutu. Uji laboratorium dan
uji lapangan menunjukkan, sifat produknya setara dengan Trinidad Lake
Asphalt.
Teknologi proses ini bahkan menghasilkan produk samping yang sangat
potensial, yaitu gipsum dan karbon dioksida. Gipsum adalah bahan baku
semen yang masih diimpor 2 juta ton per tahun. Adapun oksida karbon
dapat dikonversi menjadi es kering guna mengawetkan ikan. Dari setiap
ton produk aspal itu dihasilkan 1,45 ton gipsum dan 0,47 ton es kering.
Pengembangan baru
Melalui pengembangan aspal yang terus-menerus sejak 15 tahun lalu di
laboratorium dan pabrik yang dijuluki ”Rumah Teknologi Aspal”,
berhasil diatasi lima masalah yang ditemukan pada aspal Buton yang
dibuat selama ini, yaitu soal adesivitas, kesulitannya dalam
pengolahan, pemadatan, fleksibilitas, dan hambatan distribusinya.
Hasil olahan aspal Buton terbaru ini diberi nama BNA (Buton Natural Asphalt), yang didesain sebagai ”cloning” TLA.
Produk ini kemudian mulai menarik perusahaan lain untuk bermitra, antara lain Adhi Jaya, Pertamina, dan PT Timah (Persero).
Pertamina juga tertarik untuk ikut terlibat dalam pengembangan aspal Buton.
Pengembangan BNA diharapkan dapat mengikuti ”kisah sukses TLA” yang
sudah terbukti sebagai bahan konstruksi andal selama lebih dari 100
tahun.
Share
0 komentar:
Posting Komentar
Thanks buat semua yang sudah kasih komentar